Presentasi Pendidikan Tinggi dan Beasiswa Prancis di UMKT

Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) menggelar Presentasi Pendidikan Tinggi dan Beasiswa di Prancis, Selasa (16/10) bertempat di Aula Gedung E Kampus I UMKT. Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama antara Kantor Urusan Internasional  dan IFI (Institut Français d’Indonésie). Turut dihadiri Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama Ghozali M.H., M.Kes., seluruh Ketua Prodi, dosen, serta perwakilan mahasiswa seluruh program studi dan pembicara utama yakni Ms. Inés Schmitt selaku Koordinator Campus France Nasional, Institut Français d’Indonésie – French Embassy dan Bapak Ryan Rinaldy, Koordinator Warung Prancis.

Presentasi dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor I yang menyambut hangat kedatangan tim IFI karena telah berinisiatif datang dan memberikan info yang akan sangat bermanfaat bagi UMKT. Beliau berharap nantinya alumni ataupun dosen dapat melebarkan sayapnya berkuliah di negara-negara lain seperti Prancis sebagai salah satu negara tujuan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Dalam pemaparannya, Ms. Inés Schmitt menyampaikan bahwa presentasi ini bertujuan untuk memperkenalkan IFI sebagai institusi resmi di bawah pengawasan kedutaan besar Prancis di Indonesia yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kerja sama antara Prancis dan Indonesia dalam bidang kebudayaan, pendidikan, linguistik, sains dan teknologi dan pendidikan

tinggi. Tujuan lainnya adalah mengedukasi masyarakat Kalimantan khususnya UMKT tentang pendidikan tinggi di Prancis, biaya hidup, beasiswa dan kelebihan-kelebihan lain apabila berkuliah di Prancis. “Jumlah mahasiswa asal Kalimantan yang kuliah di Prancis masih sedikit, diharapkan melalui kunjungan-kunjungan salah satunya di UMKT ini, mampu menumbuhkan minat orang Kalimantan untuk kuliah disana” tambah Bapak Ryan.

Durasi masa kuliah yang lebih singkat, 3 tahun untuk jenjang S1, 2 tahun untuk S2 dan 1 tahun untuk PhD dan biaya kuliah yang lebih murah dengan sistem pembayaran per-tahun bukan per-semester menjadi nilai lebih berkuliah di Prancis. Pemerintah Prancis juga tidak membeda-bedakan mahasiswa lokal dan internasional, keduanya mendapatkan potongan pembayaran dormitory atau apartemen, asuransi kesehatan, pemotongan biaya masuk tempat hiburan dan edukasi seperti bioskop dan gratis biaya masuk museum.

“Prancis menjadi satu-satunya negara yang bukan berbahasa Inggris yang menjadi tujuan banyak mahasiswa internasional untuk berkuliah. Ini menjadi satu bukti bahwa  Prancis mampu bersaing dengan negara lain dalam bidang pendidikan tinggi” tutup Ms. Inés.